Pendidikan Akidah Bagi Anak (0-3 Tahun)

Thursday, May 14, 2015

Salam.

Ilmu berguna untuk aku sendiri dan yang lain.
Semua mahu membesarkan anak dengan baik kan.

Sumber : UmmiUmmi.com

Tauhidullah (mengesakan Allah), risalah mulia para rasul. Tauhidullah, wasiat orang-orang termulia bagi anak keturunan mereka.

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَتَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata), ‘Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam.’” (Q.s. Al-Baqarah:132)

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَاتَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَـهَكَ وَإِلَـهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَـهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail, dan Ishaq; (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’” (Q.s. Al-Baqarah:133)

Betapa pentingnya dakwah tauhid. Sampai-sampai Syekh Al-Albani mengingatkan kaum muslimin dalam sebuah buku beliau. Tauhid Awwalan, Ya Du’atal Islam (Tauhid Terlebih Dahulu, Wahai Para Da’i Islam) adalah buah karya beliau yang terkenal.

Tentu, da’i dan da’iah yang paling memegang peranan penting adalah para orang tua. Orang tua harus peduli akan penanaman akidah yang murni bagi anak-anak mereka.

Fahami 3 hal
Syekh Al-‘Utsaimin menasihatkan setiap da’i Islam agar memerhatikan tiga hal sebelum berdakwah:
1. Ilmu tentang materi dakwah.
2. Kondisi mad’u.
3. Metode terbaik dalam menyampaikan dakwah. (lihat: Zadud Da’iyah ilallah karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin)

Oleh sebab itu, hendaknya orang tua memahami tiga hal:
1. Materi yang akan disampaikan adalah materi yang telah dikuasai orang tua. Telah mereka pelajari dan pahami.
2. Pertimbangkan kesesuaian isi materi dengan beberapa hal: usia anak, daya-tangkap anak, kondisi anak pada saat itu (apakah sedang senang, sedih, marah, atau lelah?).
3. Pilih metode yang sesuai untuk anak. Terkadang satu metode boleh digunakan secara umum (contoh: mengajarkan adab melalui sirah nabawiyah). Terkadang pula sebuah metode tepat untuk anak-anak secara umum namun tidak untuk anak tertentu (contoh: penggunaan flashcarduntuk pengenalan huruf hijaiyah).

Contoh alur pembelajaran
Berikut ini akan saya rekatkan sebuah contoh alur pembelajaran. Saya sebut “contoh” karena para Ibu (dan Ayah) bisa menyusun alur lain untuk diterapkan di rumah masing-masing. Tentu saja, disesuaikan dengan usia, kemampuan, dan daya-tangkap anak.

Usia (tahun)
Materi
Keterangan
Baru lahir – 2 bulan
Membiasakan anak dengan lafal “la ilaha illallah”
- Bisikkan lafal ini di telinga anak.
2 bulan – 6 bulan
Membiasakan anak dengan lafal syahadat “asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah”
- Pada usia 2 bulan, ketika anak digendong biasanya anak mulai lebih sering menatap ibunya.
- Tatap mata anak ketika mengucapkan lafal tsb.
- Lafal tsb agak panjang; bersabarlah membiasakan anak dengannya.
6 bulan – 1,5 tahun
Biasakan anak mendengar lafal dzikrullah (tasbih, tahmid, takbir, tahlil) dan kalimah thayyibah (istigfar, basmalah, isti’adzah, dll.)
-
1,5 tahun – 2 tahun
Mulai bertanya-jawab dengan anak tentang “siapa tuhanmu?”
- Disesuaikan dengan kemampuan bicara anak.
- Tahap 1: orang tua memberi pertanyaan sekaligus jawabannya (contoh: Ibu: “Usamah, siapa tuhanmu? Allah”)
- Tahap 2: orang tua memberi pertanyaan, anak diminta menjawabnya.
2 tahun – 2,5 tahun
- Mulai bertanya jawab dengan anak tentang “siapa tuhanmu?”, “apa agamamu?”, “siapa nabimu?”
- Jawapan atas tiga pertanyaan ini sekaligus sebagai jati diri bagi anak (Tuhannya, agamanya, dan nabinya).
- Disesuaikan dengan kemampuan bicara anak.
- Tahap 1: orang tua memberi pertanyaan sekaligus jawabannya (contoh: Ibu: “Usamah, siapa tuhanmu? Allah”)
- Tahap 2: orang tua memberi pertanyaan, anak diminta menjawabnya.
- Mengajarkan rububiah Allah (contoh: Allah yang ciptakan Usamah. Allah yang ciptakan Ummi. Allah yang ciptakan Abi. Allah yang ciptakan pohon. Allah yang ciptakan kucing. Dst ….)
- Biasanya pada usia ini anak mulai lebih sering bertanya tentang objek di sekelilingnya, “Apa ini, Bu?”
- Mengajarkan rukun islam.
- Mengajarkan rukun iman.
- Diberikan bila sekiranya anak memang sudah lancar berbicara.
- Setiap orang tua bisa mempertimbangkan apakah materi ini akan memberatkan anak bila diberikan bersamaan dengan materi “siapa tuhanmu, apa agamamu, siapa nabimu?”.
2,5 – 3 tahun
- Mengajarkan tauhid asma’ wa sifat Allah.
- Mengaitkan kegiatan sehari-hari dengan asma’ wa sifat Allah. Contoh:
* Anak makan berdiri.
“Allah Maha Melihat. Kita malu kalau Allah melihat kita makan berdiri.”
* Anak enggan shalat.
“Allah cinta sama orang yang rajin shalat.”
- Disesuaikan dengan daya-tangkap anak.
- Ketika pertama kali mengajarkan nama Allah atau sifat Allah ulangi hingga tiga kali.
- Beberapa asma’ wa sifat Allah yang bisa coba diajarkan dalam rentang usia ini:
* Allah di atas ‘arsy.
* Allah Maha Melihat
* Allah Maha Mendengar
* Allah Cinta
* Allah Marah
- Mengajarkan keberadaan surga dan neraka.
- Untuk mengajarkan konsep targhib dan tarhib.

*Nota : Sila lihat sumber di atas. Lari pula format. hahaha



No comments:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS